Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

GOOGLE TRANSLATE....

Friday, January 1, 2016

KISAH NYATA GIGOLO DI SURABAYA YANG MENDAPATKAN RUMAH

"Lho, para TKI ini ngapain masih di penampungan? Memangnya mau berangkat ke mana?" ujar pria berkumis itu kepada tiga pemuda ganteng yang sedang asyik mengisi waktu di kamar hotel tersebut.
Seperti kor, ketiga pemuda tersebut menjawab serentak, "Mau ke Malaysia, Bos. Tapi, tak dijemput-jemput sama tekong."
Selanjutnya, tawa mereka berderai bersamaan, tak terkecuali pria yang dipanggil bos itu.

Tentu, ketiga pemuda tersebut bukan TKI (tenaga kerja Indonesia) beneran. Mereka adalah para gigolo (pelacur laki-laki) yang sedang menanti pelanggan. Di komunitasnya, mereka menyebut diri sebagai "kucing" yang menunggu mangsa. Sudah sekitar lima tahun ini para "kucing" itu tinggal di kamar hotel tersebut. Lima tahun?
Ya. Itulah pengakuan Rudi (bukan nama sebenarnya, Red), bos para "kucing" tersebut, ketika ditemui Jawa Pos pekan lalu. "Benar, sudah sekitar lima tahun ini saya sewa dua kamar di hotel ini untuk operasional. Sekarang tarifnya Rp 80 ribu per kamar semalam," jelas muncikari sembilan gigolo itu.


Selain untuk tempat berteduh para gigolo -kebetulan seluruhnya berasal dari luar kota-, kamar hotel tersebut sekaligus menjadi tempat "eksekusi". Khususnya bagi pelanggan yang memilih kencan dalam kamar hotel itu. "Kalau tamu tidak mau mem-booking ke luar, ya pakai kamar ini untuk kencan," ungkap bapak tiga anak tersebut.
"Lebih praktis daripada harus mengontrak rumah. Lagi pula, pelanggan lama tahunya ya di sini. Ngapain harus pindah," ujarnya ketika ditanya alasan mengapa tidak mengontrak rumah yang notabene bisa lebih murah dibandingkan sewa kamar hotel.
Saat order sepi, para gigolo banyak mengisi waktu luang dalam kamar sambil bersenda-gurau. Mereka mengibaratkan situasi seperti itu bak TKI yang sedang menunggu diberangkatkan ke luar negeri. Tak heran, mereka langsung tertawa terbahak-bahak ketika bos Rudi menyapa dengan anekdot TKI.

Jumlah pelacur laki-laki di Surabaya tak sebanyak dibandingkan "populasi" mereka di Jakarta. Berdasar investigasi Jawa Pos, di kota ini, ada enam kelompok gigolo. Masing-masing kelompok beranggota 4-12 orang. Selain di hotel, ada yang mengontrak rumah atau "menebas" seluruh kamar kos-kosan untuk pangkalan mereka. Bahkan, ada dua kelompok yang tak mempunyai home base. "Kami hanya menerima panggilan ke luar. Kami tidak menyediakan tempat khusus," tegas Andri (juga nama samaran, Red) yang lebih suka disebut koordinator germo itu. 

Selain beroperasi secara berkelompok, banyak "kucing" yang "berkeliaran" di jalan-jalan. Di kalangan komunitas gigolo, mereka biasa disebut "kucing garong". Paling banyak di Bantaran Kalimas, Jalan Pemuda. Di lokasi yang sering disebut sebagai "Pattaya" itu, ada belasan pria penjaja cinta yang mangkal.
Tarif para gigolo jalanan tersebut tak berbeda jauh dari yang mangkal di kamar hotel melati atau kos-kosan. Untuk pria jasa layanan quickie express yang mangkal di Pattaya, tarif short time paling mahal Rp 100 ribu.
"Bedanya, anak buah saya lebih bersih dan kondisi fisiknya terjaga. Karena itu, biasanya para tamu pun tidak enggan memberi tip yang tidak sedikit. Pernah anak buah saya mendapat tip Rp 5 juta," ungkap Rudi.

Sebagai bos, untuk setiap transaksi, dirinya mendapat "royalti" Rp 50 ribu. "Meski anak buah saya mendapat Rp 5 juta, setoran ke saya tetap Rp 50 ribu. Itu rezeki mereka. Mau dimakan sendiri, silakan. Mau dibagi-bagi, ya monggo," kata pria yang telah menekuni dunia prostitusi tersebut sejak enam tahun lalu itu.
Bagaimana tarif kelompok lain? "Ya, kalau tarif, umumnya tidak banyak berbeda. Yang beda pada tip yang diberikan pelanggan. Jarang ada yang memberi pas Rp 150 ribu," ujar Adi (nama samaran), koordinator kelompok gigolo yang mangkal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Surabaya Selatan.
Bagaimana dengan gigolo kelas atas? Rudi menggeleng. "Sepanjang pengetahuan saya, belum ada gigolo bertarif jutaan rupiah yang beroperasi di Surabaya. Kalau di Jakarta, banyak. Pangsa pasar di sini terbatas. Gigolo kelas atas bakal sulit cari makan di sini," jelasnya.

Meski relatif murah, bukan berarti kualitas gigolo kelas Rp 150 ribuan tersebut jelek-jelek. Menurut pengamatan Jawa Pos, para gigolo anak buah Rudi, misalnya, rata-rata berwajah tampan, berbadan atletis, dengan dandanan dandy.
Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Rudi mengaku anak buahnya pernah diorder beberapa artis ibu kota yang singgah di Surabaya. Para seleb cowok itu, tampaknya, ingin merasakan "jajanan" khas Surabaya. "Samalah para artis itu dengan orang lain. Kadang mereka pengin jajan juga," tegas Rudi, kemudian menyebutkan nama-nama artis ibu kota yang pernah menggunakan jasa anak buahnya.
Fenomena lain bisnis haram tersebut, para customer yang membutuhkan jasa gigolo kebanyakan adalah kaum gay. "Di antara sepuluh tamu, paling banyak hanya tiga yang wanita," ujar Rudi mengandaikan segmen pasar anak buahnya.

Dia menyatakan, memang ada gigolo yang khusus menerima tamu wanita atau gay saja. "Namun, jumlahnya sedikit. Sebab, pasti tamunya juga sedikit. Umumnya, kami melayani keduanya," ungkapnya.
Rudi menegaskan, sejauh ini dirinya dan anak buahnya tetap mempunyai orientasi heteroseksual. "Normalnya, kami masih sangat tertarik pada wanita. Bahkan, kalau ada wanita cantik yang mau jasa kami, rasanya tidak dibayar pun tidak masalah," ujarnya kemudian tertawa.

Kalau normal, bagaimana bisa menjalankan aktivitas "jeruk makan jeruk"? Untuk yang satu itu, semua kelompok gigolo berterima kasih kepada sebuah merek obat berbentuk pil yang konon kedahsyatannya melebihi obat penambah nafsu yang ada. Pil itu biasa mereka beli di toko-toko obat Tiongkok tanpa resep dokter.
"Cukup menelan setengah butir saja, sejam kemudian sudah on. Tak peduli lawan kami laki-laki sekalipun," tegas Rudi yang mengaku selama mengonsumsi pil itu tak pernah mengalami efek samping apa pun.
Antok, salah seorang anak buah Rudi, mengungkapkan, berprofesi sebagai pemuas nafsu harus kuat mental dan tegaan. "Saya pernah melayani nenek-nenek. Kalau normal, tentu saja saya tidak mau. Tapi, mau bagaimana lagi, ini profesi," kata pemuda 26 tahun yang baru sebulan "berkarir" di Surabaya itu.
Apa motivasi para pemuda ganteng tersebut nyemplung ke dunia hitam itu? Semua kompak menyebut alasan klasik, yakni masalah ekonomi. "Kalau ada pekerjaan lain yang lebih baik, saya tak akan ragu-ragu pindah," tegas Rudi.
Pria 34 tahun tersebut lalu mencontohkan kisahnya. "Saya dulu penyanyi kafe," jelasnya.
Sayang, tempat dugem lebih suka mempekerjakan para penyanyi wanita. "Akhirnya, job saya sebagai penyanyi habis," katanya.
Kondisi itu sangat memusingkan kepalanya karena kebutuhan hidup semakin banyak. "Masak, susu anak mau diganti air tajin," ujarnya. 

Setelah terombang-ambing dengan pekerjaan tak tentu, Rudi kemudian bertemu "mentor" gigolo di Bandung. "Saat itu, kami bertemu di wartel. Dia tampak sibuk dan banyak job. Lantaran tertarik, saya kemudian minta diajak bergabung," ungkapnya.
Awalnya, dirinya hanya diberi tahu bahwa Soni (nama mentor itu, Red) hanya seorang terapis pijat. Selama dua bulan, Rudi di-training Soni untuk bisa memijat. Setelah itu, Soni membawa Rudi ke Surabaya dan membuka jasa layanan pijat. Di Surabaya itulah Rudi kali pertama menjadi gigolo.
"Saya sampai stres dan tak mau makan selama seminggu ketika pertama melayani tamu laki-laki. Saya sampai terkena tifus," ungkapnya.
Hingga kini, keluarga Rudi sama sekali tidak tahu apa pekerjaan dirinya di Surabaya. Yang mereka tahu, Rudi bekerja sebagai bartender cukup sukses di Surabaya.
Alasan yang sama diucapkan Jaka, anak buah Rudi. Mahasiswa sebuah PTS di Bandung tersebut mengaku cuti satu semester ini demi mencari uang melalui jasa layanan gigolo. "Saya kerja ginian untuk cari uang kuliah saja. Buktinya, pendapatan saya selalu saya tabung di Bang Rudi," ujarnya.
Saat ini, Jaka sudah memiliki tabungan hingga Rp 5 jutaan. "Nanti saya ambil kalau saya mau kuliah lagi," tegasnya

DAPAT RUMAH DAN NENEK
SUKA dan duka selalu mewarnai perjalanan hidup Rudi, gigolo "senior" Surabaya. Namun, kata dia, lebih banyak duka. "Terus terang, siapa sih yang tak ingin kerja normal," katanya.
Salah satu yang menjadi pantangan terbesar bagi seorang gigolo, cerita Rudi, adalah jangan sampai aib itu diketahui masyarakat luas. Terutama kalangan teman-teman lamanya dan sanak keluarga sendiri. "Kalau ketemu sama Anda, saya tidak perlu malu karena Anda tahu saya gigolo. Tapi, beda kalau ketemu sama teman lama atau saudara dari kampung," papar lelaki asal Jawa Barat itu.
Rudi lantas bercerita, suatu ketika ia pernah di-booking teman sekolahnya saat SD . "Saya lupa sama dia, tapi dia ingat saya. Terus dia bertanya lebih jauh, apakah saya berasal dari Jawa Barat," ungkapnya.
Tentu saja Rudi gelagapan. Untung, Rudi kemudian mengubah drastis logat bicaranya, dan mengaku dari Sidoarjo. "Dia percaya. Kalau tidak, wah malunya bisa setengah mati," ucap pria ganteng itu.
Pengalamannya Rydi masih belum seberapa dibandingkan pengalaman pahit Jimmy, mantan anak buah Rudi. "Dia ketahuan istrinya kalau ternyata berprofesi sebagai gigolo," cerita Rudi. 

Bisa ditebak, istri Jimmy langsung mencak-mencak. Bahkan, istri Jimmy mengancam akan balas dendam menjadi pelacur sekalian. Untung, Jimmy dibantu Rudi, bisa menenangkan sang istri. "Saat itu saya sedikit berbohong. Saya bilang ke istrinya, kalau Jimmy tidak sampai melakukan hal-hal tak senonoh. Jimmy hanya menjadi terapis saja," tuturnya.
Istri Jimmy akhirnya percaya. Namun, istrinya kemudian mengajak Jimmy pulang ke Bojonegoro dan kini bekerja menjadi petani di sana. "Terakhir kami kontak, kehidupannya sudah lumayan mapan. Ya, syukurlah kalau ada yang mentas," ucapnya.
Yang paling menyiksa Rudi dan kebanyakan gigolo lainnya adalah ketika ada customer yang tak dihasratkan. "Mayoritas dari kami adalah heteroseksual, laiknya orang normal," ucapnya. 

Tentu saja, sangat menyiksa ketika mereka harus berhubungan intim dengan pria. "Saat melakukan "karaoke", saya langsung muntah dan tak bisa makan seminggu," ucapnya.
Awalnya, Rudi berontak. Namun, bayang-bayang tiga anaknya yang kekurangan susu dan makan seakan terus memaksanya untuk berbuat apa pun demi uang. Meski hatinya bergolak menentang, mau tidak mau perbuatan tidak lazim itupun dilakukan.
Namun, sambil berseroloh, Rudi mengaku mendapat pelanggan seorang tante cantik. "Namun, itu bisa dihitung dengan jari. Belum tentu sebulan kami dapat yang seperti itu," katanya. 

Celakanya, mayoritas dari tamu wanita tersebut rata-rata tidak memenuhi "kualifikasi". "Saya dapat telepon dari seorang pelanggan cewek. Dari gagang telepon, suara si pelanggan terdengar mendesah dan sangat manja," ceritanya.
Rudi pun berharap-harap cemas. Dalam benaknya, bayangan perempuan yang aduhai. Kalau tidak seindah yang dibayangkan, pikir Rudi, badannya masih kencang. Namun, bak petir di siang bolong, ketika masuk ke dalam kamar sebuah hotel berbintang ternyata tamu bersuara merdu itu adalah seorang nenek berusia 60 tahunan. "Badannya sudah kurus dan sangat keriput," kenangnya, kemudian tersenyum.
Karena sudah tidak berhasrat, Rudi memilih mematikan lampu. Tentu saja, hal itu dilakukan supaya wajah sang nenek tidak terlihat. "Membayangkan artis saja," imbuhnya, kemudian tertawa ngakak. Untung saja, nenek itu cukup baik hati. Dia memberi tip Rp 750 ribu sebagai upahnya. 

Dari menjalani hidup sebagai gigolo, Rudi juga mendapat "berkah" materi. Di antaranya, rumah tipe 45 di Jawa Barat. Kini, rumah itu ditempati ketiga anaknya dan neneknya. Namun, Rudi mengaku bahwa rumah tersebut sebenarnya pemberian seseorang. "Saya sempat menjadi pacar seorang bos perusahaan besar. Dia sangat baik hati," ucapnya. 
Bos itu langsung memberi uang kontan Rp 50 juta begitu tahu kalau Rudi belum punya rumah. "Saya disuruh bangun rumah di desa," urainya. 
Tapi, pacaran ini tak bertahan lama. Setelah enam bulan jalan bareng, anak bos memergoki keduanya sedang bermesraan. "Saya kemudian didatangi anaknya," katanya. 
Alih-alih melabrak, si anak bos tersebut ternyata meminta secara baik-baik untuk meninggalkan ayahnya. Karena memintanya secara baik-baik, Rudi juga rela meninggalkan bos dengan baik-baik pula. 

Agar Laris, Jaga Nama Korps Gigolo
ADA sejumlah cara yang ditempuh para gigolo dalam memasarkan "dagangan"-nya. Mulai dengan gethok tular hingga nongkrong di kafe atau tempat-tempat yang sering disinggahi orang-orang yang membutuhkan layanan seks laki-laki . Namun, cara paling favorit yang dilakukan para mucikari gigolo dengan beriklan di koran atau majalah.

"Hampir 90 persen pelanggan kami tahu dari iklan di koran atau majalah. Mereka baca iklan, lalu telepon untuk negosiasi, dan deal," ucap Rudi, koordinator kelompok gigolo hotel yang beranggotakan sembilan "kucing" (sebutan lain gigolo, Red) tersebut. Biayanya pun murah. Untuk paket iklan mini di sebuah koran selama dua minggu, hanya perlu mengeluarkan biaya tak lebih dari Rp 250 ribu.
Efeknya luar biasa. Paling sepi, satu kelompok bisa mendapatkan 4-5 tamu per hari. "Pernah, saat ramai, kami mendapatkan tamu hingga 15 orang," ucapnya.
Untuk mengetes omongan Rudi, wartawan Jawa Pos iseng pasang iklan sebagai gigolo yang siap melayani pelanggan. Pada hari pertama pemuatan, minimal tujuh telepon dari orang-orang yang menanyakan seputar layanan jasa "pijat tradisional" laki-laki tersebut.
Selain untuk memasarkan "dagangan", iklan itu juga berfungsi untuk merekrut calon "kucing" baru. "Lebih dari separo anggota yang saya dapatkan biasanya melalui telepon. Kadang orang Surabaya sendiri, tapi kebanyakan dari luar," ucapnya.
Biasanya anggota yang didapat dari telepon ini sudah mempunyai home base tetap. Orangnya biasanya kos sendiri dan ingin mencari pintu pemasaran lebih luas lagi. "Terserah, Mas, tarifnya. Saya ikut saja," ucap seseorang yang mengaku Bagus saat mengatakan ingin bergabung pada kelompok Rudi. 

Untuk kasus yang seperti ini, calon anggota tak perlu sering bertatap muka, tinggal telepon. Biasanya, si "pelamar" cukup menyebutkan ciri-ciri fisiknya.
Uniknya, sifat keanggotaan kelompok gigolo sangat terbuka. Anggota bisa bergabung dan keluar sekehendak hatinya. "Dengan catatan tidak bermasalah. Kalau bikin masalah, maka tak ada satu pun kelompok yang mau menerimanya," papar Antok, koordinator gigolo yang ber-home base di sebuah rumah kontrakan tipe 45 di kawasan Rungkut.
Antok mengatakan, karena komunitas ini relatif sedikit, maka satu kabar mengenai gigolo A, misalnya, pasti gampang menyebar dan diketahui kalangan gigolo lainnya. "Kami harus menjaga nama baik. Kami tidak mau ada ulah seorang gigolo yang negatif, seperti mencuri, membuat para tamu tak mau lagi menggunakan jasa kami," ucapnya. "Bisnis ini bisnis kepercayaan. Sekali tamu merasa tak aman dan privacy-nya terganggu, dia tak akan pernah pakai kita lagi," imbuhnya.
Pernah, cerita Antok, ada seorang pria penjaja cinta yang tidak jujur. Gigolo nakal itu mencuri arloji dan perhiasan tamunya. "Hampir semua dari komunitas kami lalu mencari gigolo itu. Begitu tertangkap, langsung kami serahkan ke polisi," urai Antok.
Sang tamu pun akhirnya bisa mafhum, meski arloji dan perhiasannya sudah dijual dan tak bisa diganti. "Yang penting, tamu itu tahu iktikad baik kami. Bagi kami, satu pelanggan harus dijaga betul-betul," paparnya. 

Celakanya, para tamu sering kelewatan sensitif. "Kalau saya ibaratkan, jiwa yang ada di dalam para pria gay sangat feminin. Kadang mereka meributkan hal-hal yang sebenarnya tak begitu penting," cerita Rudi. "Singkatnya, mereka sangat gondokan," imbuhnya.
Cerita Rudi ada benarnya. Satu kelompok gigolo kehilangan tamunya setelah kelompok itu berurusan dengan polisi. Para tamu menganggap, bisa jadi kelompok tersebut kemudian menjadi SP (solo pati, informan, Red) polisi. "Kasihan kelompok itu. Padahal, mereka tetap profesional seperti sediakala setelah urusan di kepolisian beres," ucap Rudi.
Kendati "ada dan tiada" dan sering mendapatkan tamu aneh-aneh, profesi dunia hitam ini rupanya masih menjanjikan keuntungan bagi pelakunya. Dengan modal iklan Rp 250 ribu saja, pendapatan yang mereka raih bisa ratusan ribu per hari. Misalnya, untuk koordiantor gigolo, setiap hari bisa mendapatkan uang Rp 400 ribu. Pendapatan itu diperoleh dari potongan Rp 50 ribu tiap transaksi sembilan anak buahnya. Tak jarang masih ditambah ketika si anak buah mendapat tip besar. 
"Pernah, saya diberi anak buah saya Rp 1 juta. Karena dia mendapat tip Rp 5 juta dari tamunya," papar Rudi.
Bila dalam dua minggu (durasi iklan Rp 250 ribu, Red) mendapat 70 tamu, maka seorang koordinator bisa mendapatkan Rp 5.600.000. Setelah dikurangi operasional, dalam dua minggu, seorang koordinator bisa mengantongi Rp 3,5 juta bersih. Bahkan, seringkali pendapatan itu jauh lebih besar dari rata-rata. Sebulan bisa mencapai Rp 7 juta. "Itu kalau sedang panen," tandasnya.( sumber : jawapos.com )