Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

GOOGLE TRANSLATE....

Saturday, June 11, 2016

AJARAN ILMU RAHASIA TENTANG TUHAN MAHA PENCIPTA DAN MANUSIA YANG DICIPTAKAN-NYA

Sang murid bernama Wujil semula adalah orang Majapahit, yang bekerja mengabdi di istana kerajaan tersebut. Karena haus ilmu agama akan ia berguru kepada seorang sufi bernama Sang Ratu Wahdat. Tetapi, sepuluh tahun sudah ia belajar, belum juga ia diperkenalkan kepada ilmu rahasia. Setelah lama mengabdi sebagai santri, Wujil memberanikan diri meminta 
diberi ajaran ilmu rahasia. 
Namun Sang Guru menilai, belum waktunya Wujil belajar ilmu rahasia.
 
Namun pada akhirnya, sampai juga saatnya Sang Guru memanggil Wujil, untuk menerima uraian ilmu rahasia. Mengenai kebenaran ilmu rahasia itu. 
Sang guru bersumpah, kalau karena ajarannya itu orang harus masuk neraka, sang gurulah yang bersedia masuk neraka sebagai tanggung jawabnya, bukan muridnya.

Ajaran rahasia pertama
yang diberikan Sang Guru kepada Wujil adalah berupa pesan, bahwa orang hidup di dunia haruslah berhati-hati, jangan lengah dan tidak boleh bertindak serampangan. Adapun ajaran rahasia yang kedua ialah, mengingatkan, agar manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Manusia itu hanya ciptaan Tuhan, diadakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Manusia itu tidak akan ada bila tidak diadakan oleh Tuhannya.

Selanjutnya “Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, bahwa engkau bukanlah kesejatian, dan kesejatian bukanlah engkau,” ujar Sang Guru. Selanjutnya kepada Wujil dijelaskan, bahwa barang siapa mengenal diri sendiri, seolah-olah ia mengenal Tuhannya. Selanjutnya diajarkan apa arti shalat yang sesungguhnya. Menurut Sang Guru, shalat yang sebenarnya ialah jika orang tahu atau mengerti kepada siapa ia menyembah. Jika orang menyembah tanpa mengetahui siapa yang disembah, itu tidak ada artinya.

Penjelasan selanjutnya, mengenai pentingnya manusia mengenali dirinya sendiri, serta tiada henti-hentinya memuji keagungan Illahi. Orang harus mengetahui di mana letaknya yang berdoa (makhluk) dan siapa yang dituju dengan doa itu (Khalik). Barangsiapa mengetahui dengan benar hal itu, ia berhak menerima anugerah yang besar.
 
Kepada Wujil juga dijelaskan oleh Sang Guru, bahwa sifat Tuhan jelas berbeda dengan sifat manusia. Namun demikian ada orang yang mengaku atau merasa tahu dan mengenal Tuhannya. Namun, dari kelakuan dan perbuatannya, sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia benar-benar tahu. Buktinya, ia tidak mematuhi ajaran pengendalian hawa nafsu.
Orang yang mengenal Tuhan, ujar Sang Guru, tidak akan meninggalkan kesalehan dalam hidupnya. Orang yang mengenal Tuhan, ia akan mengendalikan hawa nafsunya siang ataupun malam. 


Ajaran selanjutnya adalah tentang berdoa dan memuji keagungan Allah.
Ajaran selanjutnya ialah, tentang puji. Sang Guru mengatakan kepada Wujil, memuji keagungan Allah di siang hari maupun di malam hari adalah sangat baik. Namun pujian yang baik itu juga ada syaratnya, yakni harus sesuai dengan aturan yang digariskan dalam syariat. Pujian yang dilakukan sesuai dengan aturan, nilainya sama dengan sembahyang selama dua belas tahun. Sebab, menurut Sang Guru, tafakur dengan benar, nilainya sama dengan sembahyang dua belas tahun. Kepada Wujil juga dipaparkan apa arti kebaktian yang unggul. Manusia yang sudah memahami apa arti kebaktian yang unggul akan berbakti tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya ditujukan sebagai pengabdian terhadap Allah SWT. Singkat kata, semua tindak tanduknya adalah sembahyangnya.

Sang Guru pun berpesan kepada Wujil
, agar mau dan mampu mengekang hawa nafsu
yang tidak baik.

Pertama, mengekang nafsu bicara. Sebaiknya orang tidak terlalu banyak bicara. Kedua, jangan memaksakan kehendaknya sendiri kepada orang lain. Ketiga, jangan hanya mengikuti kehendak pribadi saja. Mengikuti kehendak pribadi melulu, merupakan jalan yang sesat, menurut Sang Guru.

Sang Guru juga menjelaskan filsafat kematian. Mati itu tidak mudah, ujar
nya. “Dalam kehidupan ini sukar untuk mati, selagi orang tersebut masih hidup, jarang orang untuk mencapainya.” Itu berarti, untuk mati orang memerlukan persiapan. Selagi orang hanya berpikir segala yang duniawi, ia belum siap untuk mati. Sang Guru juga menjelaskan, bahwa mati itu tidak perlu dijauhi, tidak perlu ditakuti. Sebab, mati merupakan tujuan orang berbakti, tiada lagi yang menghitung-hitung, sebab mati itu kembali ke asalnya. Jika orang masih menghitung-hitung kepentingan duniawi, orang tidak akan berhasil menemukan kematian yang sejati. Untuk bisa menemukannya, orang harus menghilangkan semua hawa nafsunya yang tidak baik atau HIDUP BISA DAN MAMPU MEMATIKAN  NAFSU YANG TIDAK BAIK. Jika orang telah menemukan cara mati nafsu yang sempurna ( bukan mati nyawanya ), maka kemauan dan kehendak akan menyatu. 

( ajaran rahasia sampai disini )

Cara melakukan hidup dalam kematian nafsu yang tidak baik adalah seperti yang diajarkan Sunan Kali Jaga kepada santrinya yaitu Harus TAPA atau MENJAGA SETIAP SAAT.

Tapa atau menjaga selalu yang dianjurkan Sunan Kalijaga diantaranya:


A. Badan, tapanya berlaku sopan santun, zakatnya gemar berbuat kebajikan.

B. Hati atau budi, tapanya rela dan sabar, zakatnya bersih dari prasangka buruk.

C. Nafsu, tapanya berhati ikhlas, zakatnya tabah menjalani cobaan dalam sengsara dan mudah mengampuni kesalahan orang.

D. Nyawa atau roh, tapanya belaku jujur, zakatnya tidak mengganggu orang lain dan tidak mencela.

E. Rahsa, tapanya berlaku utama, zakatnya duka diam dan menyesali kesalahan atau bertaubat.

F. Cahaya ata Nur, tapanya berlaku suci dan zakatnya berhati ikhlas.

G. Atma atau hayu, tapanya berlaku awas dan zakatnya selalu ingat.


Di samping itu diajarkan pula tapa/menjaga dalam perbuatan yang berhubungan dengan 7 anggota badan yaitu :


1. Mata, tapanya mengurangi tidur, zakatnya tidak menginginkan kepunyaan orang lain.

2. Telinga, tapanya mencegah hawa nafsu, zakatnya tidak mendengarkan perkataan-perkataan yang buruk

3. Hidung, tapanya mengurangi minum, zakatnya tidak suka mencela keburukan orang lain

4. Lisan, tapanya mengurangi makan, zakatnya dengan menghindari perkataan-perkataan buruk

5.  Aurat, tapanya menahan syahwat dan zakatnya menghindari perbuatan zina

6. Tangan, tapanya mencegah perbuatan mencuri, zakatnya tidak suka memukul orang lain

7. Kaki, tapanya tidak untuk berjalan berbuat kejahatan dan zakatnya menyukai berjalan untuk istirahat dan intropeksi



Ajaran yang sangat mulia dari Sunan Kali Jaga. Tapi di jaman EDAN ini sangat sedikit yang mau hidup dengan hati dan perbuatan yang mulia. Maka sangat beruntung dan bahagia apabila di jaman edan ini DI BERI TAUFIK DAN HIDAYAH OLEH ALLAH BISA HIDUP YANG MULIA HATI DAN PERBUATANNYA.