Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Doa Hamba Allah

GOOGLE TRANSLATE....

Sunday, November 6, 2016

HAKIKAT RUH DAN JIWA MANUSIA

Syeikh Naem As-Saufi berkata dalam kitab Mengenal Ruh : 
Bermula ada pun Ruh Idhafi itu maka daripadanya asalnya Jawahir. 
Ada pun Ruh Idhafi itu ialah Nuktah. 

Yang mengadakan Nuktah itu Dzat Allah yang Maha Suci. Maka Nuktah itu adalah Titik. Maka Titik itu didalam BA, Maka bernamalah ia Bismillah.
Maka dari huruf Bismillah itulah Asalnya kejadian Alam Semesta dan segala isi-isinya. 



Apabila BA itu terbalik namanya dinamakan NUN. 
Maka Roh Idafi itulah izin Allah di dalam diri kita. 
Maka Ruh Idhafi itulah dinamakan Ujud Idhafi. 
Maka Ruh Idhafi itulah dinamakan Nyawa Muhammad, Nyawa Adam, Nyawa orang-orang Mukmin dan Nyawa kepada Ruhani.
Maka kenyataan Ruh Idhafi itu lah Ruhul Quddus. 
Maka kenyataan Ruhul Quddus itu ialah Ruhani. 

Kenyataan Ruhani itu ialah Nafas kita. 
Maka ada pun Ruh Idhafi itu didalam diri. 
Maka Hakeqat itu diri, dan diri itu didalam Idhafi.
Pasal Nabi Musa AS tidak kenal apa itu Idhafi, maka sebab itu Nabi Musa AS tidak kenal siapa itu Nabi Khidir AS. Maka sebab itu Nabi Musa tidak sanggup mengikuti perjalanan Nabi Khidir AS sampai pada edahnya…

Banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan Diri adalah yang kelihatan Yaitu Jasad Kasar kita ini atau yang di sebut dengan Panggilan Badan. atau Tubuh. Sebenarnya bukan itu yang dimaksudkan disini.. 

Diri yang di maksudkan itu adalah Diri Sebenar Diri, yang duduknya di dalam Jasad atau Tubuh kasar kita ini. 

Mari kita pisahkan antara :
Mana Jasmani dan Mana Rohani
Mana Diri Terdiri dan Diri Terperi,
Mana Jiwa dan Mana Raga
Mana Zahir dan Mana Batin.
Baiknya kita pahami terlebih dahulu perbezaan dua kata ini, sebelum kita berkata. 

Diri berbeda dengan Badan, Jasmani tentunya berbeda dengan Rohani,
Jiwa berbeda dengan Raga dan pastinya Zahir berbeda dengan Batin, 

Jika tidak mengapa ada dua perkataan tersebut yang senatiasa menjadi sebutan kita?
Kita selalu menyebut akan kata-kata diatas ini, tapi tahukah kita perbezaan antara keduanya?
Perbedaan inilah yang banyak orang tidak dapat menerangkan dengan jelas apalagi untuk dapat merasakan perbedaannya. 
.
Bahwa..
Jasad kasar kita ini atau badan kita ini tidak dapat hidup dengan sendirinya,
Jasad atau Badan kasar kita ini yang kita jaga dan dipercantik, sebenarnya cuma benda mati, yang tidak dapat berbuat apa apa jika tidak ada "Penghidupnya" yang duduknya didalam jasad itu sendiri. Penghidup inilah yang dipanggil Diri Sebenar Diri.
Diri yang berdiri dengan sendiri dan yang Ujud apabila Roh memasuki Jasad,
Sekali lagi.. Diri sebenar Diri Ujud sesudah Roh berada di dalam Jasad. Sebagimana tentang Ujudnya Adam pada mulanya.. 

Alkisah :
Setelah Malaikat menyiapkan Jasad Adam maka Jasad Adam terbaring kaku, dan Allah pun memerintahkan Roh untuk masuk ke dalam Jasad Adam, kemudian bertanyalah Roh kepada Allah :
"Ya Allah melalui jalan manakah aku harus masuk?"
Maka Allah pun Menjawab, 
"Masuklah melalui mana saja yang kamu suka"
dan seterusnya Roh memasuki Jasad Adam melalui Hidung. untuk selanjutnya kita bernafas melalui hidung. 

Jadi melalui cerita ini dapatlah kita pahami bahwa ketika Roh masuk ke dalam Jasad Adam, barulah Adam hidup dan seterusnya bangun dan berdiri, ini jelas menunjukkan setelah Roh masuk kedalam Jasad barulah Jasad hidup atau juga disebut BERNYAWA. 

Maka…
Diri sebenar Diri adalah…
Setelah Roh memasukki Jasad, barulah Ujudnya "Diri" atau jelasnya "Diri" ini Datang 

Kesimpulannya…
Roh itu adalah Cahaya dan ketika ia memasukki Jasad maka Cahaya tadi memenuhi ruang Jasad di dalam dan akan menjadi saperti Jasadnya sendiri.
Maka dengan sebab inilah "Diri" itu rupanya sama dengan jasadnya sendiri, hanya Saja ia ghaib.
Dan harus diingat hanya yang Ghaib saja yang dapat menghubungi yang Ghaib. 

Cahaya (Diri) tadi mengalir ke seluruh Jasad di dalam, dan dialah yang menjadi "PENGHIDUP" kepada Jasad. Dialah hidup sebenar benar hidup, lagi menghidupkan.

Orang yang tahu hakekat dan makrifat, sedikitpun tidak ada yang meninggalkan Syariat, namun yang meninggalkan Syariat, hanya prasangka-prasangka orang yang tidak mengetahui Hakekat saja, Dalam kondisi apapun Syariat tidak bisa ditinggalkan, karena syariat adalah pondasi segalanya, 
Syariat itu adalah Tubuhku, 
Tharikat itu adalah Hatiku,
Hakikat itu adalah Nyawaku,
Ma'rifat itu adalah Rahasiaku 

Karena AKU itu adalah hakekat ESA,
AKU itu adalah puncak IKLHAS,
AKU itu adalah ALLAH, 
AKU itu yang telah Mengesakan Aku dalam AKU, 
AKU itu adalah EsaNya,
AKU itu adalah DzatNya,
AKU itu adalah HakekatNya,
AKU itu adalah DiriNya,
AKU itu adalah DIA,
AKU itu adalah ALLAH, ALLAH itu adalah AKU 

Esaku itu bukan satu, 
Esaku itu bukan bilangan,
Esaku itu bukan tunggal, 
Esaku itu bukan jumlah, 
Esaku itu bukan kata, 
Esaku itu bukan termaknai,
Esaku itu bukan dimaknai, 
Esaku itu adalah AKU,
AKU hanya AKU.