Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Doa Hamba Allah

GOOGLE TRANSLATE....

Wednesday, June 8, 2016

Kenapa ALLAH Menciptakan Manusia Yang Kelak Kebanyakan Harus Disiksa-Nya di Neraka

 
 Ada Pertanyaan Orang Atheis Kepada Dr.Zakir Naik :
"Tuhan maha tahu. Dia tahu bahwa kelak pasti ada ciptaannya masuk neraka. Nah sudah tahu akhirnya seperti itu, tapi kenapa penciptaan manusia ini tetap dilanjutkan? Katanya Tuhan maha penyayang, mestinya Dia mengurungkan penciptaan manusia, agar tak ada satupun yang masuk neraka."
Demikian pertanyaan sederhana seorang ateis yang diberikan kepada Dr Zakir Naik dalam sebuah forum umum tanya jawab. Tanya jawab secara live memang sangat mengasyikkan namun tak bisa dipungkiri seringkali jawaban melebar sehingga ada beberapa substansi pertanyaan yang terlewat. Sang penanya, Harris adalah seorang ateis dari Phoenix Arizona USA yang berprofesi sebagai seorang manajer pemasaran. Beberapa rekan saya menanggapi seirus pertanyaan ini dan mulai memberikan penjelasan, namun tak satupun mereka yang mengutip ayat Quran yang secara substansial berkaitan dengan pertanyaan ini. Berikut jawaban Quran atas permasalahan ini

Isyarat Quran yang terlewatkan

Tak banyak yang tahu isyarat Quran bahwa sebenarnya kehendak bebas sudah diberikan oleh Tuhan sejak sebelum manusia ada di dunia. Artinya menjadi manusia bukan merupakan paksaan dari Tuhan, melainkan pilihan kita sendiri. Siapa bilang?
Allah berfirman dalam QS 7 al A'raaf : 172

al a'raaf ayat 172

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", 

Allah juga berfirman dalam QS 33 Al Ahzab :72

manusia bodoh karena mau memikul tanggung jawab

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, 

Kedua ayat di atas mengisyaratkan pada pembaca Quran bahwa manusia lahir ke dunia sebagai pemikul amanat (Khalifatullah fil Ardli : lihat QS Al Baqarah ayat 30) yang sebelumnya telah bersaksi bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakannya dan kelak wajib ditaatinya.

Menjadi Manusia Adalah Pilihan

Jadi lahir ke dunia sebagai manusia merupakan pilihan kita meskipun soal kita lahir dari rahim ibu yang mana kita tak pernah memilihnya. Namun tak satupun manusia diberi kemampuan mengingat peristiwa ketika kita memilih saat itu. Kelak di hari akhir semua ingatan kita dibuka sehingga semuanya jelas dan terbukti bahwa kita manusia dahulu memang benar benar telah memilih menjadi manusia dengan segala konsekuensinya. Di dunia, orang bisa percaya bisa mengingkari ayat quran itu tapi di akhirat semuanya menjadi jelas. Itu sebabnya bagi orang yang menolak berita quran kita disuruh mengatakan demikian,"....ya tunggu saja nanti setelah kita semua dibangkitkan,....mana yang benar.... persangkaan kalian atau ayat Quran"
Orang bisa mengatakan,"Saya tidak ingat bahwa saya pernah memilih jadi manusia?". Jawabannya mudah, "Sekarang ini anda menjadi manusia, itu merupakan bukti nyata bahwa anda dahulu telah memilih, sebab kalau anda tidak memilihnya Tuhan tidak akan memaksa anda menjadi manusia". Peristiwa yang disebutkan quran itu mirip seperti titik percabangan if then dalam sebuah bagan alir logika. Semua yang memilih jadi manusia diminta persaksiannya, sementara yang tidak memilih jadi manusia (kalau ada) tidak diceritakan karena bisa jadi dia menjadi malaikat atau menjadi makhluk lain atau tidak menjadi apa-apa.
Ada gambaran sederhana. Kenapa semua kita manusia dahulu memilih jadi manusia dan dengan sukarela bersaksi bahwa Allah adalah Rabb kita yang pasti akan kita taati? Sejenak kita maksimalkan kejujuran kita. Diantara makhluk Tuhan yang lain saat itu seperti langit bumi gunung danpara malaikat, dimana tak satupun memiliki kehendak bebas kecuali "keterpaksaan tunduk atas perintah Tuhan", kemudian akan diciptakan manusia dilengkapi dengan kehendak bebas sehingga  memungkinkan untuk tunduk patuh kepada Tuhan bukan dengan terpaksa tapi dengan kesadaran penuh, tentu pilihan baru ini menjadi "lebih favorit" (ctt: bahkan malaikatpun konon iri kenapa bukan mereka saja yang jadi manusia). 
Dalam Quran dikisahkan setelah adam dan hawa diciptakan mereka diberi kemudahan yang sangat banyak sembari menyertakan satu larangan sebagai ujian ketaatan. Sejujurnya semua orang dengan mudah mengatakan bahwa yang disediakan Tuhan untuk mereka berdua sudah lebih dari cukup, tanpa harus melanggar larangan yang cuma satu itu. 
Beberapa ateis mengaku bisa mengerti hal itu namun masih sedikit kesulitan ketika dihadapkan pada pertanyaan berikutnya, "Ok lah, anggap hal itu benar terjadi,  tapi bukankah Tuhan tahu bahwa nantinya banyak manusia yang gagal sehingga harus masuk neraka? Jadi mestinya Dia bisa menghentikan agar tak seorangpun yang memilih jadi manusia?"
Apabila Tuhan telah menetapkan sesuatu maka Dia tidak akan merubahnya. Ketetapan Tuhan mirip sebuah algoritma, alur logika dimana di dalamnya terdapat percabangan if then yang sangat kompleks namun tetap memiliki konsistensi yang sempurna tanpa mengandung bugs atau kecacatan. Ketika Tuhan menetapkan penciptaan manusia maka tidak akan Dia membatalkan urusan tersebut. Ketika paradigma ateis menganggap penciptaan ini merupakan bencana bagi manusia sendiri sekaligus merupakan kesia-siaan bagi Tuhan, ternyata Tuhan memberikan penjelasan bahwa tidak benar ini sia sia. Tuhan menciptakan dengan tujuan memuliakan manusia dengan membekalinya kehendak bebas, penglihatan pendengaran dan akal budi, serta semua kelengkapan penunjang yang bakal dibutuhkan manusia selama di dunia agar bisa sukses menjalani pilihannya sendiri, sekaligus bisa membangun kemuliaannya melebihi semua makhluk Tuhan yang lain. Bahkan Tuhan memberikan petunjuk, kiat kiat sukses, peringatan kehati-hatian, melalui malaikat dan para nabi, berupa ayat ayat Tuhan yang dibukukan menjadi Taurat, Zabur, Injil dan Quran.
Asumsikan keputusan penciptaan manusia  merupakan awal sebuah bagan alir, maka Tuhan menyiapkan teramat banyak simpul if then sepanjang perjalanan hidup manusia di dunia yang setiap kali dipilih secara jujur dengan akal budi yang diberikan Tuhan, maka dia dipastikan mengarah pada kondisi kemuliaan dan akhir hidup yang baik yaitu surga.
Kehendak bebas dan kejernihan akal budi merupakan sebuah kemuliaan agung yang diberikan tidak kepada makhluk lain kecuali atas manusia. Pintu pintu sukses dunia sekaligus selamat di akhirat