Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

GOOGLE TRANSLATE....

Thursday, March 1, 2018

Memfanakan Diri Serta HIDUP DALAM KEMATIAN DAN MATI DALAM KEHIDUPAN Untuk Sampai ke Tingkat Mukasyafah Supaya TUHANKU DAN AKU SELALU BERSATU TETAPI TIDAK MENYATU.




Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Matikanlah (dirimu) sebelum kematian sendiri”. Jadi kita harus MEMATIKAN DIRI SENDIRI DALAM HIDUP SEBELUM KEMATIAN YANG SEBENARNYA DATANG.

TAFSIR: Pengertian MEMATIKAN  di atas, mengandung HAKEKAT agar kita WALA QADIRUN, WALA ‘ALIMUN, WALA HAYYUN, WALA MURIDUN, WALA SAMI’UN, WALA BASYIRUN, WALA MUTAKALLIMUN (Tidak Kuasa, Tidak Mengetahui, Tidak HIdup, Tidak Berkehendak, Tidak mendengar, Tidak Melihat, Tidak Berkata-kata). Bahwa kita “mati”, tidak mampu berbuat apa-apapun. Kita “nol”/”kosong”/”tak berdaya apa-apa”. Yang  BERKUASA, MENGETAHUI, HDUP BERKEHENDAK, MELIHAT, MENDENGAR, dan yang BERKATA hanya Tuhan. Hakekatnya, manusia telah FANA’ dalam wujud dan maujud Tuhan (AHADIAYAH) melalui ILMU, yang DHAHIR TUHAN dan SABDA Rasulullah saw (nur muhmmad) “MENYATU” DALAM DIRI MANUSIA (BERSAMA Tuhan). Dalam ilmu akan QADIM segalanya.

MEMATIKAN NAFSU DAN KEINGINAN YANG DILARANG AGAMA LALU MEMFANAKAN DIRI DALAM DZIKIRULLAH DISERTAI PUASA UNTUK MEMBERSIHKAN DOSA-DOSA, SELALU BERSUNGGUH-SUNGGUH TAAT DALAM PERINTAH AGAMA UNTUK MENCAPAI MUKASYAFAH.

KETIKA KEMATIAN YANG SEBENARNYA DATANG, ROH AKAN AKAN LEPAS DARI JASAD ATAU BADAN DHOIR, KEMUDIAN ROH AKAN MENGHADAP TUHAN ALLAH DENGAN “ MEMAKAI PAKAIAN JUBAH KETAATAN YANG BERSINAR OLEH AMALAN DZIKIRULLAH DAN PUASA “.

Kita harus menghayati SIRR TUHAN (masuk dalam RAHASIA ALLAH) — Maqom al Wishal, dalam wujud Tuhan (bersama manusia).
Penghayatan ini haruslah diketahui dengan benar agar kita tidak terjerumus dalam dosa.

Untuk mencapai SIRR ALLAH harus tidak ada dosa. Dan pula harus menggunakan ILMU, puncak dari segala puncak untuk makrifatullah (sirr Allah) antara kita dan Allah SWT. Sebagaimana  Firman Allah SWT.: Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia.

Firman Allah SWT: Manusia adalah rahasia-Ku, dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku, tiada lain dari-Ku

Dalam SIRR TUHAN  maka apa-apa yang dilakukan manusia: napasnya, kehendaknya, hatinya, gerak kaki/tangannya, perkataannya dan seluruh perbuatannya adalah irodah dan qadiran (kehendak dan kuasa) Tuhan, sebagai wujud ahadiyah manusia dan Tuhan. Seperti Firman Allah SWT : Dan Dia selalu bersamamu sekalian.

Tuhan bersamamu seakan/bagaikan warna-hitam dan putih pada mata manusia. Tuhan selalu bersama yang NAMPAK dalam alam semesta ini, seperti Sabda Rasulullah SAW.: Barang siapa melihat sesuatu maka dilihatnya Tuhan di dalamnya.

Sayyina Abu Bakar RA berkata: Tiada aku melihat sesuatu kecuali aku melihat Tuhan (disitu) sebelumnya. Sayyidina Utsman Bin Affan RA berkata: Tiada aku melihat sesuatu dan aku melihat Tuhan bersamanya. Dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA juga berkata: Tiada aku melihat sesuatu dan aku melihat Tuhan padanya.

Dari dalil-dalil di atas, nyatalah bahwa hakekat segala sesuatu yang terlihat di alam semesta, Tuhan selalu ada bersamanya. Tuhan selalu “menyatu”(intrinsik) dan inner dengan segala sesuatu yang nampak/dhahir.

” Wahai manusia ! Sesungguhnya kamu harus berusaha dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk bertemu dengan Tuhanmu, sampai kamu bertemu dengan-Nya “. ( QS Al Insyiqoq 84 : 6 )

Abu Huroiroh r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Solallohu Alaihi Wasallam bersabda, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu ...dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)

Membuka Rahasia Diri melalui ILMU TAFAKUR.” “Membina kekuatan jiwa,mental dan penyembuhan penyakit zahir dan batin” Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya)… “(al-Baqoroh: 152)

Sifat jasad adalah mengurusi pakaian, serta membutuhkan makan dan minum sedangkan sifat ruh adalah mmbutuhkan dzikir dan ibadah. Maka, Ilmu Muamalah diartikan atau diibaratkan seperti dokter yang mempunyai tanggung jawab untuk urusan menyehatkan jasad, sedangkan Ilmu Bathin adalah yang menguasai hati dan menjauhkan sifat-sifat yang keji dan tercela misalnya iri, dengki, pemarah, riya', ujub, sombong, takabur, hasud, yang mana sifat tercela itu harus dibersihkan.



Maka untuk mendekatkan diri kepada Allah itu dengan hati, bukan dengan jasad atau badan yang kelihatan. Yang dimaksudkan hati adalah Sirr (Rahasia) dari Allah SWT. Yang disifatkan Nama Allah (Ya Lathif), hati yang mempunyi kelembutan, perasaan, dan kepekaan. Jadi, hati yang tidak memiliki kepekaan, perasaan dan nurani itu maka sangat sulit mendekatkan kepada Allah, atau disebut hati yang keras yang menjadi penghalang untuk bertemu dengan Allah SWT.

Jadi tidak teliti dalam ibadah dengan penghayatan,perasaan, dan dengan kerendahan hati menyadari sebagai abdinya Allah, maka akan terhalang. Walaupun shalatnya 1000 raka'at satu hari, walau dzikirnya 100.000 tetapi hatinya tidak mendekat dan tidak teliti, tidak merasakan sentuhan-sentuhan kerohanian, maka batal hukumnya jika dipandang dari Ilmu Mukasyafah. Tetapi bagus juga dipandang dari ilmui syari'at/ilmu mu'amalah. Tetapi untuk mengenal kepada Allah itu tidak sampai karena sudah terhalang/terhijab. Karena yang halus/lembut itu sudah masuk dalam asma Allah (Ya Lathif). Masuk dalam Asma Allah (Ya Halim/Penyantun), Al Hakim adalah kebijaksanaan, yang itu semua dimulai dengan Ya Lathif. Dan berbicara dengan kalimat atau kata-kata Ruh. Yang disebutkan An Nafsul Muthmainnah atau jiwa yang tenang,. Artinya orang yang hatinya sudah dekat kepada Allah maka itu mententramkan jiwa dan ruhnya, jauh dari putus asa, jauh dari ragu-ragu, jauh dari tekanan, jauh dari sangka buruk kepada Tuhannya. Mereka sudah tidak membutuhkan apa-apa. 

Untuk mendapatkan ilmu bathin, maka hati ini adalah imam atau disebut raja. Dan hati itu adalah kendaraan atau jalan pertama untuk mendapatkan ilmu rahasia. Maka seluruh anggota tubuh itu digerakkan dngan hati. Dengan kehalusan, kepekaan, dan ketelitian hati menggerakan seluruh anggota tubuh untuk ibadah kepada Allah. Jadi yang menyebabkan malas itu karena hawa nafsu, yang menyebabkan ingkar dan menjauh dari Tuhannya itu juga nafsu. Karena hatinya sudah dipenuhi dengan nuftah (noda). Noda itu adalah bagian dari perbuatan dosa. Ini yang menghalangi untuk sampai kepada Tuhannya, sehingga jiwa dan pikirannya sempit, pandangannya sempit, hatinya sempit, sampai rezeqinya sempit, pemahaman tentang ilmu juga sempit karena terhalang oleh dosa-dosa. diibaratkan kendaraan yang rusak, tidak bisa berjalan. Itu sama dengan hati hati yang rusak, maka tidak akan sampai pada tujuan. Dan selalu menunda waktu dan menunda hidup untuk kebaikan karena hatinya rusak, akhirnya tidak sampai kepada cita-citanya.

Maka, sirr adalah rahasia yang mengungkapkan jalan menuju ilmu Mukasyafah, yaitu ma'rifat kepada Allah SWT. Dan sangat sulit dan berat untuk mendapatkannya, dan tidak mudah untuk mendapatkannya. Diibaratkan satu mutiara yang didalam lautan, yang tersembunyi dibalik samudra. Maka disbut hati (Al Qolb) adalah suatu szat (Jauhar) yang amat bernilai.

Maka disebut mulia itu dari segala benda yang dilihat oleh mata. Disebut amrun iIlahi (urusan Tuhan). Jadi Allah membukakan rahasia hati ini, yang mana bisa memandang yang tidak bisa dipandang oleh mata dhahir. Mata hati bisa memandang seluruh alam ini, yaitu yang disebut Ilmu Mukasyafah.

Mukasyafah berasal dari kata kasyafa-yaksyifu berarti menyingkap, menampilkan. Mukasyafah berarti penyingkapan sesuatu yang gaib, abstrak, dan terselubung (mahjub).
Dalam perspektif tasawuf, mukasyafah lebih tinggi daripada waqi'ah. Kalau waqi'ah masih paralel perjalanan nafsu dan roh, sedangkan mukasyafah sudah lebih dominan perjalanan roh. Mukasyafah dinilai lebih valid dan lebih absah daripada waqi'ah, manamat, ru'yah, dan hilm. 

Mukasyafah tidak gampang diraih oleh banyak orang karena sangat bergantung tingkat kedekatan diri dengan Allah SWT. Orang-orang yang sudah lama menempuh perjalanan suluk pun belum tentu bisa mengalami pengalaman mukasyafah.
Mukasyafah dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sedangkan waqi'ah, manamat, ru'yah, dan hilm  masih bersifat kondisional. Hanya para nabi dan rasul serta sejumlah wali bisa sampai ke tingkat mukasyafah. 

Mukasyafah bisa mengambil berbagai bentuk, termasuk dalam bentuk manamat, ru'yah, atau waqi'ah. Dari sudut inilah sebagian ulama mengatakan mukasyafah sama saja dengan waqi'aah, ru'yah, dan manamat.

Mukasyafah  bisa dibedakan ke dalam dua jenis :
I. Mukasyafah muncul melalui mimpi atau kekuatan imajinasi dari dalam diri disebut penglihatan jiwa (mata batin). 
II. Mukasyafah yang muncul melalui isyarat yang datang dari kekuatan lain dari luar, misalnya mendengarkan informasi melalui bisikan atau suara gaib, dari sumber yang tidak tampak maka ini disebut telinga jiwa (telinga batin). Bagaimana mengasah mata batin dan telinga batin sudah dibahas di dalam artikel terdahulu.

Kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu yang gaib melalui imajinasi cerdas yang diperoleh melalui manamat dan waqi'ah, biasanya disebut al-kasyf al-mukhayyal, atau penyingkapan imajinasi dan khayalan. 

Imajinasi dan hayalan di sini tentu bukan imajinasi atau khayalan sembarangan, tetapi sesuatu yang lahir dari orang-orang yang terlatih sepanjang waktu dengan penuh ketekunan untuk belajar. Orang yang sampai di maqam ini sudah mampu menggunakan mata dan telinga batinnya untuk mengungkap sesuatu yang bukan saja bersifat fisik, melainkan juga hal-hal yang bersifat gaib.

Mukasyafah yang lebih tinggi tidak hanya mampu mengungkap khayali, tetapi juga hal-hal yang bersifat gaib. Mukasyafah jenis ini juga mampu menangkap makna dari pengalaman dan peristiwa simbolis, misalnya menerjemahkan sebuah isyarat yang muncul, baik dalam manamat maupun waqi'ah menjadi makna aktual dalam kehidupan nyata.